PUISI KITA
Puisi-puisi ini saya buat selama Proyek BRIDGE. Selamat membaca, baik sekadar bahan bacaan maupun untuk permenungan. Untuk partners di Aussie, silakan kalau mau dijadikan bahan ajar atau diterjemahkan (translate). Terima kasih.
AUTUMN LEAF (Purhendi)
“Ini bukan sekadar awal musim gugur. Ini adalah kisah kehidupan”, bisikmu sambil menimang-nimang sehelai autumn leaf yang kuning kecoklatan “Ia dulu hijau segar. Lantas mengikuti kisah hidup bersama arus waktu dan pada akhirnya ia harus kembali ke tanah, tempat ia tumbuh semula”
Lantas kau alirkan pandang pada Yara River yang hening dan aku kembali memungut selembar demi selembar autumn leaf di tepian Yara sambil mencuri pandang pula ke arahmu gerai rambutmu yang dipermainkan semilir angin yang kian dingin
“Sebentar lagi kelam kan menangkup senja dan ini adalah kisah yang lain pula”, lanjutmu tak lepas tatapmu menelusuri Yara yang bening
Aku mencoba menelusuri tatapmu kurasa aku hanya masih tak menemukan jawaban entah kalau gulana pula bahwa takdir telah membawaku ke sini dan menetap di kedalaman biru matamu meski untuk sesaat.
“Ya, kini aku mulai memahami tentang autumn leaf yang berguguran dan beralih rupa bahwa kisah akan silih berganti dan takdir akan terus bergulir menemani laju waktu” bisikku lembut sambil kutatap dalam selembar autumn leaf yang telah kecoklatan yang telah kuberi figura sejak kepergianmu sejak kepulanganku.
Melbourne, Mei 2012 Banjaran, Juli 2012
(Salam kangen untuk rekan-rekan tercinta di Aussie; Good day mate….!)
ADA POHON KAMBOJA (Purhendi)
Di sini pun ada pohon kamboja, Ibu Ada pohon kamboja Dan bunganya pun bermekaran Putih kekuningan Dan baunya sama Menelusup ke relung kalbu
Aku teringat padamu, Ibu Suatu saat aku pun pasti menyusulmu Meski entah kapan dan di mana Bahkan mungkin tidak di bawah Pohon kamboja
Denpasar-Bali, 3 Mei 2012
BULAN OVAL (Purhendi)
Di atas riak kuta senja Bulan oval singgah Kau menatapku begitu Dengan sedikit senyum harap Lalu perlahan lenganmu dekap
“Adakah waktu kita kan kembali?”
Hampar pasir senja tak sampai dengar bisikmu Bulan oval lindap perlahan Di bilik kuta Di bilik harap tatapmu
Pantai Kuta-Bali, 3 Mei 2012
BALI SEDIKIT BASAH PAGI ITU (Purhendi)
Bali sedikit basah pagi itu Seperti berat melepas kepergianmu Tapi ku tak tahu di kuta Apakah kau kan memandang pagi dan lautnya yang mungkin hangat Yang menyisakan bayang mimpi semalam
Barangkali malah kau tak peduli Dan aku yang merasai saja!
Bali sedikit basah pagi itu Seperti halnya juga Mengantar kepulanganku yang gelisah.
Denpasar, 4 Mei 2012
AWAL MUSIM GUGUR (1) (Purhendi)
Silau matahari membakar senja bandara Tapi hawa merambat mendekapkan gigil
“Ini musim gugur, awal musim dingin,” bisikmu
Aku masih saja mempertanyakan Kehadiranmu Yang telah sekian lama Menyatu
Di musim manakah Kan kautemukan kepastian?
Sydney, 14 Mei 2012
MENUNGGU (Purhendi)
Hidup tak lebih dari Sejengkal waktu Sejengkal tanah
“Kita masih saja menunggu”, bisikmu.
Adakah waktu kan menjawab?
Sydney, 14 Mei 2012
AWAL MUSIM GUGUR (2) (Purhendi)
Akhirnya aku hadir juga di sini Di wajah Singleton Pada awal gugur dedaun dan beku udara Menghias catatan perjalanan Nostalgia fana dan keabadian
(Adakah kau kan membacanya?)
Bila suatu saat nanti Aku dan kau telah tiada Anak cucuku kita barangkali kan berjumpa Entah di sini entah di tempatku mula Entah di musim mana Atau mungkin dengan harapan dan kisah yang beda
Senyum dan tatap Adalah jawaban hidup dari perjumpaan Bahasa hanyalah perantara saja Dan kadang isyarat lebih bermakna
Aku ingin sekali lagi saja menyapamu Ketika salju pertama mulai turun di pegunungan
(Mestikah kuucapkan selamat tinggal?)
Singleton, 25 Mei 2012
LUKISAN DINDING (Purhendi)
Memandang lukisan dinding di Careton Garden Primary adalah masa kanak anakku yang hilang dan aku hanya bisa mengingatnya pada linang air mata
Memandang aneka lukisan kanak adalah sesalku yang buram yang diam pada beku udara di jalan
Maka maafkanlah aku yang pernah kehilangan waktu untuk sebuah masa yang semu
Melbourne, 15 Mei 2012
DI MUSEUM MELBOURNE (Purhendi)
Baru sekali ini, sayang Kulihat jasad manusia Diurai sedemikian rupa
“Hanya sesuatu seperti ini?” bisikmu
Jadi apalah beda Ketika hari lebaran tiba Kambing-kambing digantung dan dikuliti Lalu demikian tampak segala Apa yang terbungkus di balik kulit Tak ada beda
Dan apa pun yang kita telan Pada akhirnta hanya menyisakan segumpal najis
Lalu apa yang tampak beda Dari sekian keragaman wajah dan nafsu kita?
Bernarlah, sayang Kita hanyalah segumpal darah segumpal daging Berhias tulang berhias kulit Berhias warna berhias nafsu!
Dan pada akhirnya Kita pasti akan pulang Pada asal yang sama Pada waktu yang sabar menunggu tiba.
Puisi-puisi ini saya buat selama Proyek BRIDGE. Selamat membaca, baik sekadar bahan bacaan maupun untuk permenungan. Untuk partners di Aussie, silakan kalau mau dijadikan bahan ajar atau diterjemahkan (translate). Terima kasih.
AUTUMN LEAF
(Purhendi)
“Ini bukan sekadar awal musim gugur.
Ini adalah kisah kehidupan”, bisikmu
sambil menimang-nimang sehelai autumn leaf
yang kuning kecoklatan
“Ia dulu hijau segar. Lantas mengikuti kisah hidup
bersama arus waktu
dan pada akhirnya
ia harus kembali ke tanah, tempat ia tumbuh
semula”
Lantas kau alirkan pandang pada Yara River yang hening
dan aku kembali memungut selembar demi selembar
autumn leaf di tepian Yara sambil mencuri pandang pula
ke arahmu gerai rambutmu
yang dipermainkan semilir angin
yang kian dingin
“Sebentar lagi
kelam kan menangkup senja
dan ini adalah kisah yang lain pula”, lanjutmu
tak lepas tatapmu menelusuri Yara yang bening
Aku mencoba menelusuri tatapmu
kurasa aku hanya masih tak menemukan jawaban
entah kalau gulana pula
bahwa takdir telah membawaku ke sini
dan menetap di kedalaman biru matamu
meski untuk sesaat.
“Ya, kini aku mulai memahami
tentang autumn leaf yang berguguran
dan beralih rupa
bahwa kisah akan silih berganti
dan takdir akan terus bergulir
menemani laju waktu” bisikku lembut
sambil kutatap dalam
selembar autumn leaf yang telah kecoklatan
yang telah kuberi figura
sejak kepergianmu
sejak kepulanganku.
Melbourne, Mei 2012
Banjaran, Juli 2012
(Salam kangen untuk rekan-rekan tercinta di Aussie; Good day mate….!)
ADA POHON KAMBOJA
(Purhendi)
Di sini pun ada pohon kamboja, Ibu
Ada pohon kamboja
Dan bunganya pun bermekaran
Putih kekuningan
Dan baunya sama
Menelusup ke relung kalbu
Aku teringat padamu, Ibu
Suatu saat aku pun pasti menyusulmu
Meski entah kapan dan di mana
Bahkan mungkin tidak di bawah
Pohon kamboja
Denpasar-Bali, 3 Mei 2012
BULAN OVAL
(Purhendi)
Di atas riak kuta senja
Bulan oval singgah
Kau menatapku begitu
Dengan sedikit senyum harap
Lalu perlahan lenganmu dekap
“Adakah waktu kita kan kembali?”
Hampar pasir senja tak sampai dengar bisikmu
Bulan oval lindap perlahan
Di bilik kuta
Di bilik harap tatapmu
Pantai Kuta-Bali, 3 Mei 2012
BALI SEDIKIT BASAH PAGI ITU
(Purhendi)
Bali sedikit basah pagi itu
Seperti berat melepas kepergianmu
Tapi ku tak tahu di kuta
Apakah kau kan memandang pagi
dan lautnya yang mungkin hangat
Yang menyisakan bayang mimpi semalam
Barangkali malah kau tak peduli
Dan aku yang merasai saja!
Bali sedikit basah pagi itu
Seperti halnya juga
Mengantar kepulanganku yang gelisah.
Denpasar, 4 Mei 2012
AWAL MUSIM GUGUR (1)
(Purhendi)
Silau matahari membakar senja bandara
Tapi hawa merambat mendekapkan gigil
“Ini musim gugur, awal musim dingin,” bisikmu
Aku masih saja mempertanyakan
Kehadiranmu
Yang telah sekian lama
Menyatu
Di musim manakah
Kan kautemukan kepastian?
Sydney, 14 Mei 2012
MENUNGGU
(Purhendi)
Hidup tak lebih dari
Sejengkal waktu
Sejengkal tanah
“Kita masih saja menunggu”, bisikmu.
Adakah waktu kan menjawab?
Sydney, 14 Mei 2012
AWAL MUSIM GUGUR (2)
(Purhendi)
Akhirnya aku hadir juga di sini
Di wajah Singleton
Pada awal gugur dedaun dan beku udara
Menghias catatan perjalanan
Nostalgia fana dan keabadian
(Adakah kau kan membacanya?)
Bila suatu saat nanti
Aku dan kau telah tiada
Anak cucuku kita barangkali kan berjumpa
Entah di sini entah di tempatku mula
Entah di musim mana
Atau mungkin dengan harapan dan kisah yang beda
Senyum dan tatap
Adalah jawaban hidup dari perjumpaan
Bahasa hanyalah perantara saja
Dan kadang isyarat lebih bermakna
Aku ingin sekali lagi saja menyapamu
Ketika salju pertama mulai turun di pegunungan
(Mestikah kuucapkan selamat tinggal?)
Singleton, 25 Mei 2012
LUKISAN DINDING
(Purhendi)
Memandang lukisan dinding
di Careton Garden Primary
adalah masa kanak anakku yang hilang
dan aku hanya bisa mengingatnya
pada linang air mata
Memandang aneka lukisan kanak
adalah sesalku yang buram
yang diam pada beku udara di jalan
Maka maafkanlah aku
yang pernah kehilangan waktu
untuk sebuah masa yang semu
Melbourne, 15 Mei 2012
DI MUSEUM MELBOURNE
(Purhendi)
Baru sekali ini, sayang
Kulihat jasad manusia
Diurai sedemikian rupa
“Hanya sesuatu seperti ini?” bisikmu
Jadi apalah beda
Ketika hari lebaran tiba
Kambing-kambing digantung dan dikuliti
Lalu demikian tampak segala
Apa yang terbungkus di balik kulit
Tak ada beda
Dan apa pun yang kita telan
Pada akhirnta hanya menyisakan segumpal najis
Lalu apa yang tampak beda
Dari sekian keragaman wajah dan nafsu kita?
Bernarlah, sayang
Kita hanyalah segumpal darah segumpal daging
Berhias tulang berhias kulit
Berhias warna berhias nafsu!
Dan pada akhirnya
Kita pasti akan pulang
Pada asal yang sama
Pada waktu yang sabar menunggu tiba.
Melbourne, 15 Mei 2012